@PWILS Gresik -- Islam sebagai agama rahmatan lil alamin terus menunjukkan relevansi dan daya tariknya di berbagai belahan dunia. Di Jepang, perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu fenomena menarik. Kajian-kajian ilmiah yang mengedepankan rasionalitas dan pendekatan inklusif semakin diterima oleh masyarakat Jepang. Salah satu kajian yang mendapat sorotan adalah pemikiran Kiai Imaduddin Utsman Albantani tentang nasab dan Islam yang rasional.

NU di Jepang: Dari Pemikiran ke Aksi Nyata
Kiai Lutfi Baktiar, aktivis NU di Jepang, memberikan gambaran tentang dinamika Islam di negara tersebut. Beliau menyebutkan, “NU di Jepang tidak hanya berkembang secara struktural, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan kearifan lokal masyarakat Jepang. Orang Jepang melihat NU sebagai Islam yang rahmatan lil alamin, karena NU tidak berkonfrontasi dengan masyarakat lokal.”

NU Jepang telah mendirikan 15 cabang di berbagai provinsi, seperti Tokyo, Osaka, hingga Hokkaido. Masjid-masjid NU, seperti Masjid Nusantara di Hokkaido, menjadi pusat kegiatan yang tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga tempat berkumpul, berbagi, dan healing. Dalam salah satu petikannya, Kiai Lutfi menjelaskan bahwa masjid NU di Jepang sering menjadi tempat “orang-orang stres untuk mendapatkan ketenangan,” serta tempat makan bersama setelah salat Jumat, mencerminkan kebersamaan khas NU.

Resonansi Pemikiran Kiai Imad di Jepang
Pemikiran Kiai Imaduddin yang menyoroti purifikasi nasab dan rasionalisasi agama mendapat sambutan hangat di kalangan masyarakat Jepang dan diaspora Indonesia. “Pemikiran Kiai Imad menjadi relevan karena orang Jepang sangat menghargai data dan logika. Ketika mereka bertanya, misalnya, ‘Apakah yakin Nabi Muhammad adalah orang baik? Mana buktinya?’ maka pendekatan rasional Kiai Imad sangat membantu menjawab pertanyaan semacam itu,” jelas Kiai Lutfi.

Menurut Kiai Lutfi, pendekatan rasional seperti yang dilakukan Kiai Imaduddin ini menjadi jembatan penting untuk berdialog dengan masyarakat Jepang yang menghargai keseimbangan antara keimanan dan rasionalitas. Hal ini juga sejalan dengan nilai-nilai NU sebagai organisasi yang kosmopolitan dan mampu menyerap kearifan lokal.

Meskipun ada perkembangan positif, perjalanan dakwah Islam di Jepang tidak tanpa tantangan. Stereotip terhadap Islam sebagai agama Timur Tengah yang konservatif masih menjadi hambatan. “Kalau ke Jepang, jangan hanya bilang agamanya Islam, tapi bilang NU. Orang Jepang cenderung mengasosiasikan Islam dengan Timur Tengah yang cenderung radikal,” ujar Kiai Lutfi. Ia menekankan pentingnya memperkenalkan Islam Indonesia sebagai model Islam yang damai, toleran, dan berbasis lokalitas.

Selain itu, populasi aging society di Jepang memberikan peluang bagi NU untuk memberikan kontribusi nyata. Dengan membeli tanah-tanah kosong di pedesaan untuk masjid dan pesantren, NU telah membantu merevitalisasi daerah-daerah yang mulai ditinggalkan penduduk. "Di desa-desa yang sepi, masyarakat NU membeli tanah untuk dijadikan masjid, seperti Masjid Nusantara. Ini membuat daerah tersebut kembali hidup," kata Kiai Lutfi.

NU di Jepang telah membuktikan bahwa Islam bisa diterima di tengah masyarakat modern tanpa kehilangan esensinya. Pendekatan inklusif, rasional, dan kosmopolitan adalah kunci keberhasilan ini. Pemikiran Kiai Imaduddin dan aktivisme Kiai Lutfi Baktiar memberikan inspirasi bahwa Islam dapat berdialektika dengan budaya lokal dan tetap relevan di berbagai zaman.

Dr. Saleh, seorang akademisi yang ikut dalam diskusi ini, menegaskan, “Islam rahmatan lil alamin tidak hanya rahmat untuk manusia, tetapi juga untuk kearifan lokal. Dalam konteks Jepang, Islam harus mampu berdialog dengan kosmologi lokal tanpa mencabut akar kealaman masyarakat.”

Ke depan, harapannya adalah semakin banyak orang Jepang asli yang tertarik dengan Islam rahmatan lil alamin. Dengan semangat ini, NU dapat terus menjadi jembatan harmoni antara agama dan budaya di Jepang.