@PWILS Gresik -- Organisasi pergerakan masyarakat sering menjadi motor perubahan sosial, politik, dan budaya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa banyak organisasi semacam ini menghadapi kegagalan atau runtuh karena berbagai faktor. Dengan mengacu pada teori-teori akademis dan contoh sejarah, kita dapat memahami lebih dalam faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan tersebut.
1. Konflik Internal: Perspektif Teori Konflik
Teori konflik, yang dipopulerkan oleh Karl Marx, menyoroti bahwa ketegangan antara kepentingan kelompok yang berbeda sering kali menjadi penyebab disintegrasi. Dalam konteks organisasi, konflik internal muncul ketika:
- Pemimpin memiliki kepentingan yang berbeda dari anggotanya.
- Distribusi sumber daya dianggap tidak adil.
Contoh sejarah:
- Partai Komunis Indonesia (PKI): Salah satu faktor yang menyebabkan kehancuran PKI adalah adanya konflik internal antara faksi yang mendukung perjuangan bersenjata dengan yang mengusung strategi politik damai.
Menurut Ralf Dahrendorf, konflik internal menjadi lebih berbahaya ketika tidak ada mekanisme resolusi yang efektif, sehingga konflik tersebut bertransformasi menjadi perpecahan permanen.
2. Penurunan Kepercayaan Publik: Teori Legitimitas Weberian
Max Weber menekankan pentingnya legitimasi dalam keberlangsungan organisasi. Ketika organisasi kehilangan kepercayaan masyarakat, legitimasi mereka pun runtuh. Penurunan kepercayaan ini sering disebabkan oleh:
- Korupsi atau penyalahgunaan wewenang.
- Kegagalan organisasi memenuhi harapan masyarakat.
Contoh sejarah:
- Organisasi Islam Muhammadiyah di era kolonial: Pada masa-masa tertentu, Muhammadiyah menghadapi tantangan legitimasi ketika beberapa anggotanya dianggap terlalu dekat dengan pemerintah kolonial Belanda, sehingga menimbulkan ketidakpercayaan di antara masyarakat pribumi.
Teori Weberian mengajarkan bahwa legitimasi harus terus diperbarui melalui tindakan yang konsisten dengan nilai dan norma masyarakat yang dilayani.
3. Tekanan Eksternal: Teori Ketergantungan dan Teori Sistem Dunia
Teori ketergantungan (Dependency Theory) yang dikemukakan oleh Andre Gunder Frank, serta teori sistem dunia (World Systems Theory) oleh Immanuel Wallerstein, menjelaskan bahwa tekanan eksternal sering kali berasal dari aktor yang lebih dominan dalam sistem global atau nasional. Organisasi masyarakat sering terjepit di antara:
- Kekuasaan negara yang represif.
- Kompetisi dari organisasi lain yang memiliki akses lebih besar ke sumber daya.
Contoh sejarah:
- Gerakan Nasionalis India: Tekanan dari pemerintah kolonial Inggris yang menekan berbagai organisasi pergerakan masyarakat seperti All India Muslim League dan Kongres Nasional India memaksa mereka untuk menyesuaikan strategi mereka atau menghadapi kehancuran.
4. Ketidakmampuan Beradaptasi: Teori Evolusi Sosial
Herbert Spencer, melalui teori evolusi sosial, menyatakan bahwa hanya organisasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang dapat bertahan. Organisasi yang kaku dalam struktur atau ideologi akan tertinggal dan akhirnya runtuh.
Contoh sejarah:
- Gerakan Sosialis di Eropa Timur: Banyak organisasi sosialis gagal bertahan setelah runtuhnya Uni Soviet karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dinamika politik dan ekonomi global.
5. Kurangnya Sumber Daya: Teori Mobilisasi Sumber Daya
Menurut teori mobilisasi sumber daya (Resource Mobilization Theory) yang dikembangkan oleh McCarthy dan Zald, keberhasilan organisasi pergerakan masyarakat bergantung pada kemampuannya mengelola sumber daya. Ketika sumber daya manusia, finansial, atau material tidak mencukupi, organisasi akan kesulitan bertahan.
Contoh sejarah:
- Gerakan Reformasi Agraria di Amerika Latin: Banyak gerakan petani di Amerika Latin gagal bertahan karena keterbatasan dana untuk melanjutkan advokasi dan minimnya dukungan dari masyarakat luas.
6. Krisis Identitas: Teori Identitas Kolektif
Teori identitas kolektif menekankan bahwa organisasi pergerakan masyarakat harus memiliki identitas yang jelas untuk membangun rasa solidaritas. Jika identitas ini memudar, anggota akan kehilangan motivasi, dan masyarakat akan kehilangan kepercayaan.
Contoh sejarah:
- Gerakan Mahasiswa 1968 di Prancis: Setelah mencapai beberapa keberhasilan awal, gerakan ini kehilangan identitas kolektifnya karena perpecahan ideologis antara faksi yang lebih moderat dan yang lebih radikal.
7. Fragmentasi dan Radikalisasi: Teori Faksi
Menurut teori faksi, organisasi yang terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan tujuan atau metode yang berbeda cenderung kehilangan kohesi. Faksi-faksi ini sering kali saling bersaing, melemahkan kekuatan utama organisasi.
Contoh sejarah:
- Partai Ba'ath di Timur Tengah: Fragmentasi internal partai ini di berbagai negara seperti Suriah dan Irak menyebabkan lemahnya organisasi pada tingkat regional.
Kesimpulan
Sejarah dan teori-teori akademis memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya organisasi pergerakan masyarakat. Dari konflik internal hingga tekanan eksternal, dari penurunan kepercayaan hingga krisis identitas, faktor-faktor ini saling berkaitan. Agar organisasi pergerakan masyarakat tetap relevan dan bertahan, mereka perlu mempelajari sejarah, menerapkan teori-teori akademis, dan mengadaptasi strategi sesuai dengan dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang terus berubah.