PWILS Gresik -- Masih banyak pesantren NU yang terafiliasi dengan habib, hal ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan pesantren tersebut yang melibatkan habib di dalamnya serta pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh pengasuhnya yang dominan masih membela dan pasang badan untuk habib-habib. Kondisi ini tentu harus dianalisis lebih jauh dalam kerangka agama, sosial, politik, dan kebangsaan.
Fase Adaptasi Para Habib dalam Menanam Pengaruh
Fase adaptasi adalah kondisi dimana para habib masih menundukkan kepalanya di Nusantara dengan menunjukkan kebaikan-kebaikan sembari menanamkan pengaruh kepada para Ulama Nusantara terdahulu, melalui pengakuan bahwa mereka Keturunan Nabi Muhammad SAW, hal ini bisa dilihat dari Pengakuan Habib Ahmad bin Jindan Murid dari KH. Kholil Bangkalan (Syaikhona Kholil Bangkalan) kemudian mengaku kepada Gurunya tersebut bahwa dirinya adalah Keturunan Nabi Muhammad SAW. Karena Ilmu pengetahuan DNA dan Kajian Filologi masih belum masif pada waktu itu, apalagi ditunjang bahwa habib pada era tersebut masih menunjukkan sikap yang elegan secara dhohir, maka Sang Gurupun mengamini bahwa Habib adalah Keturunan Rosulullah SAW melalui Khusnudzon. Khusnudzon dapat diterapkan manakala belum ada keilmuan yang bisa digunakan untuk membuktikan bahwa Habib adalah Keturunan Rosulullah SAW.
Fase adaptasi ini adalah fase dimana pengaruh-pengaruh pengakuan sebagai Dzurriyah Rosulullah SAW kepada Ulama-Ulama Nusantara, Ulama Nahdhatul Ulama, pengasuh-pengasuh pesantren NU, dan santri-santri NU yang masih mengedepankan sikap Feodalisme. Mereka mengetahui bahwa NU adalah Organisasi keagamaan terbesar di Dunia, yang turut serta dalam memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan ikut dalam pembahasan UUD 1945 serta Pancasila, Indonesia bisa kuat salah-satunya karena dibentengi oleh Organisasi terbesar ini, maka upaya untuk menghancurkan Indonesia tentu bisa dimulai dari bagaimana menghancurkan NU dari dalam, melalui infiltrasi budaya dan pengaruh-pengaruh agama yang dipelintir sedemikian rupa.
Memperluas pengaruh kepada ulama Nusantara merupakan strategi yang disinyalir sangat efektif untuk memperkuat posisi psikologis bagi ulama sepuh yang sulit move on hal ini tentu dapat dilihat dari sikap-sikap pembelaan di beberapa Pondok Pesantren yang ada di Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya, dengan mengecualikan Ilmu yang berkaitan dengan DNA beserta kesejarahan yang konsisten setiap Zaman. Satu sisi Ulama Nusantara merupakan benteng NKRI di sisi lain dengan sikap membela Habib mereka secara tidak langsung telah menciderai nasionalisme kebangsaan kepada bangsa dan negara ini.
Faktor Feodalisme Pesantren Menjadikan Kondisi Semakin Sulit
Ketika pengaruh pengakuan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW berhasil dibidikkan kepada para ulama-ulama Nusantara, maka mereka dengan mudah menguasai komunitas santri yang berguru kepada ulama-ulama Nusantara tersebut beserta keluarga santri dan yang terafiliasi. Santri yang pernah belajar di Pesantren seringkali terjebak pada kesetiaan mutlak dan kultus pribadi yang berlebihan. Ketika seorang pengasuh Pesantren keliru dalam pemikiran apalagi terkait dengan kepercayaannya terhadap Habib sebagai cucu Nabi maka sikap santri-santrinya adalah Dogmatisme dan Penolakan Kritik dari luar komunitasnya. Memahami pengakuan Cucu Nabi atas klaim Habib tidak boleh terbatas hanya Khusnudzon, dengan perkembangan dunia sains dan teknologi serta Ilmu Pengetahuan, dengan mudah dapat menjawab klaim-klaim habib tersebut apakah mereka benar sebagai keturunan Nabi atau bukan. Secara biologi molekuler yakni DNA dan secara Filologi, sebagian pakar telah menjelaskan bahwa DNA mereka bukan dari ras arab, bahkan tidak mempunyai mutasi genetik dari Nabi Ibrahim AS, sehingga dapat dikatakan mustahil sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Secara Filologi klan Ba'alwi ini tidak terekam dalam suatu manuskrip sezaman bahkan hampa dari abad 4 sampai abad 8 Hijriah.
Faktor Feodalisme yang membelenggu para santri membuat masalah pembelokan sejarah, pengubahan nama-nama makam tokoh sejarah masa lalu, dan pembuatan makam-makam palsu menjadi suatu kondisi yang permisif dengan alasan yang tidak masuk akal. Mereka cenderung diam tanpa kata atas fakta-fakta yang membahayakan sejarah dan peradaban bangsa Indonesia oleh karena yang melakukan adalah mereka yang mengklaim keturunan Rosulullah SAW, padahal andaikan itu benar keturunan Rosulullah SAW, sikap permisif terhadap perilaku kejahatan atas suatu peradaban bangsa tidak bisa diteloleransi oleh siapapun karena itu adalah Kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Kemerdekaan itu mahal karena direbut dengan darah dan nyawa, sedangkan sejarah suatu bangsa adalah identitas bangsa yang memberikan narasi sejarah kepada generasi bangsa itu. Untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak harus perang dengan senjata, cukup rubah sejarahnya dan tokoh-tokoh masa lalunya, maka suatu bangsa akan kehilangan identitasnya, bahkan identitas bangsa ini suatu saat akan diklaim oleh bangsa lain dan kemudian kita kehilangan segalanya.
Ulama-Ulama Nusantara Perlu Kolaborasi Keilmuan
Sebagai upaya dalam mencegah kejahatan trans-nasional atau kejahatan yang mengancam eksistensi suatu negara, perlu adanya pemahaman bersama terkait dengan klan ba'alwi, mengkajinya dengan berbagai lintas keilmuan, Ilmu Nasab, Ilmu Sejarah, Ilmu Filologi, Ilmu Biologi Molekuler (DNA), dan lain sebagainya. Karena obyek bidikan dari Klan ba'alwi adalah Ulama-Ulama Nusantara yang berhaluan Ahlussunnah Waljama'ah (ASWAJA), yakni Nahdhatul Ulama, maka para ulama-ulama dalam organisasi tersebut baik yang masih Muhibbin atau yang sudah mendudukan kebenaran melalui ilmu pengetahuan haruslah duduk bersama mengkaji kembali tentang keberadaan dan eksistensi Klan Ba'alwi, melalui kolaborasi keilmuan untuk mencari kebenaran yang logis (masuk akal) dan bersikap tegas terhadap kelakukan mereka saat ini yang memporak-porandakan peradaban dan sejarah bangsa Indonesia.
Khusnudzon tidak dapat lagi digunakan apabila alat ukur dari suatu obyek yang diteliti sudah ditemukan, sebagai permisalan sederhana, zaman dahulu seseorang membeli beras 1 kg ketika tidak ada timbangan, maka penjual memperkirakan 1 kg tersebut dengan membuat suatu perkiraan tertentu dengan keyakinannya. Ketika timbangan itu sudah bisa didapatkan maka 1 kg beras tidak boleh dijual dengan menggunakan perkiraan. Oleh karena itu mengkaji suatu Klan tertentu, menelisik genetiknya dengan pendekatan keilmuan dan sains, merupakan suatu cara yang logis untuk menjawab ketidakpastian menjadi hal yang pasti, apalagi klaim dari klan mereka mengaku sebagai Keturunan Rosulullah SAW, jika klaim itu palsu, maka mereka yang menjadi Muhibbin, bersikap permisif terhadap kejahatan mereka, adalah suatu sikap yang mengamini suatu kejahatan tetap subur di negeri yang merdeka ini. Namun demikian, jika mereka yang masih muhibbin akan tetapi mampu menyadari tentang bahayanya strategi mereka (klan Ba'alwi), sebaliknya membantu mengembalikan yang telah dirubah oleh mereka (oknum habib), adalah suatu usaha yang positif yang sudah sepatutnya anak bangsa membela negaranya sendiri dari suatu kejahatan dan memberikan sikap tegas untuk menuntut kepada hukum atas suatu kesalahan.
Kembali Kepada Ulama Nusantara
Ketidaktegasan dari klan mereka terhadap oknum-oknumnya yang membelokkan sejarah, membuat makam-makam palsu, mengubah nama-nama tokoh di pemakaman tertentu, merupakan indikasi bahwa mereka satu kata untuk menjadikan Indonesia menjadi bintu Tarim, membuat prasasti-prasasti sejarah palsu yang kemudian nantinya dibukukan dalam bentuk suatu manuskrip baru, yang nantinya manuskrip-manuskrip baru itu digunakan sebagai acuan pembuatan buku sejarah yang kemudian dipublikasikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa merdeka dan maju karena jasa-jasa dari orang-orang Yaman, dengan isi buku berupa photo-photo makam yang sudah dipalsukan, sejarah yang telah dibelokkan, dan nama-nama tokoh yang telah dirubah dengan memodifikasi nama dan menuliskan ulang dengan marga-marga mereka.
Fakta semacam ini, pribumi harus melihat (melek) bahwa Nahdhatul Ulama sedang tidak baik-baik saja, ada infiltrasi dari luar berkedok cucu Nabi palsu menggerogoti NU, ketika NU tumbang, bagaimana nasib UUD 1945 dan Pancasila. Ketika Nahdhatul Ulama dengan JATMAN yang telah dirusak sedemikian rupa berupa sabotase sanad keilmuan dan Thoriqoh, kemudian membuat tandingan berupa JATMA ASWAJA, jika Nahdhatul Ulama tidak bersikap tegas, suatu saat bisa jadi ada Nahdhatul Ulama tandingan yang dipelopori oleh klan Ba'alwi ini.
Kembali ke Ulama Nusantara, adalah salah satu jalan terbaik untuk meneguhkan cinta tanah air dan bangsa, sambil melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kondisi saat ini. Mereka yang masih muhibbin sebaiknya membuka hati untuk kembali kepada pangkuan ibu pertiwi entah itu sebagai Ulama Nusantara atau para pengikut Ulama tersebut. Evaluasi adalah peringatan terbaik untuk mencegah bahaya tidak berlanjut dan Indonesia tetap utuh sebagai negara yang berdaulat dan berperadaban tinggi.