PWILS-Gresik -- Kebesaran suatu bangsa ada pada sejarah dan budayanya, hal ini menekankan pentingnya menjaga sejarah dan budaya sebagai pondasi identitas nasional dan kebanggaan bangsa. Sejarah mencakup catatan peristiwa yang dialami suatu bangsa dari masa lalu hingga kini, termasuk perjuangan, kemenangan, dan tantangan yang dihadapi. Budaya mencakup adat istiadat, kepercayaan, bahasa, seni, sastra, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah dan budaya membentuk karakter bangsa melalui sikap dan perilaku yang membentuk simbol bangsa Indonesia yang berperadaban dan berbudi luhur sehingga menjadi kebanggaan nasional.
Ketika sejarah dan budaya suatu bangsa dirampas atau dilumpuhkan, maka bangsa tersebut kehilangan identitasnya dan menjadi rentan terhadap pengaruh asing. Tanpa sejarah dan budaya, masyarakat kehilangan pijakan untuk memahami dirinya sendiri, dari mana mereka berasal, dan apa yang membuat mereka bangga memiliki bangsa yang berkeadaban dan berbudi luhur ini.
Beberapa cara untuk melumpuhkan bangsa melalui perampasan sejarah dan manuskripnya :
1. Penghapusan Identitas Nasional
Ketika sejarah atau dokumen penting seperti manuskrip hilang atau dihancurkan, identitas bangsa menjadi kabur, sejarah bangsa rentan untuk diputarbalikkan, karena tidak mempunyai sandaran sumber primer, sekunder, maupun tersier. Penghapusan identitas bangsa dapat terjadi ketika sejarah dan kebudayaan lokal maupun nasional digantikan oleh budaya asing yang dipaksakan, termasuk menghilangkan dan melenyapkan manuskrip-manuskrip sejarah, kerajaan, dan lain sebagainya. Tidak adanya dokumen primer karena musnahnya manuskrip adalah jalan masuk penjajahan terhadap suatu bangsa dengan menghilangkan tokoh-tokohnya di masa lalu, jika ini terjadi puluhan tahun ke depan, kebesaran Indonesia tinggal kenangan, karena tokoh-tokoh sejarah dirubah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Model penjajahan seperti ini masuk dalam kategori kolonialisme, dimana negara-negara penjajah sering kali berusaha menggantikan budaya lokal dengan budaya mereka, mempengaruhi pola pikir, bahasa, dan adat masyarakat, termasuk merubah sejarah dan semua peninggalan-peninggalannya.
2. Kehilangan Nilai dan Warisan Budaya
Setiap bangsa memiliki nilai-nilai dan norma sosial yang disimpan dalam budaya dan sejarah mereka. Nilai-nilai ini dapat hilang jika manuskrip-manuskrip yang berisi ajaran moral, filosofi, dan pengetahuan dihancurkan atau disimpan oleh pihak asing. Banyak manuskrip kuno yang berisi pengetahuan tentang pengobatan tradisional, astronomi, atau sejarah alam yang penting hilang atau diambil oleh bangsa lain, mengakibatkan hilangnya pengetahuan asli bangsa tersebut.
3. Hilangnya Jati Diri Kolektif
Sejarah membantu suatu bangsa mengembangkan jati diri kolektif atau rasa persatuan dan kebersamaan sebagai satu entitas. Ketika sejarah ini dirusak, masyarakat kehilangan rasa keterhubungan dengan leluhur dan nenek moyang mereka. Hal ini melemahkan ikatan sosial dan solidaritas nasional, membuat masyarakat rentan terhadap perpecahan dan ketergantungan pada pihak luar, yang pada akhirnya, bangsa ini rentan pula dikuasai oleh pihak asing.
4. Pengendalian Narasi dan Pengubahan Sejarah
Penghapusan sejarah juga bisa terjadi melalui manipulasi atau penulisan ulang sejarah oleh pihak-pihak tertentu oleh karena keberhasilan mereka dalam menghapus sumber-sumber primer seperti manuskrip dan catatan-catatan primer lainnya. Pengubahan narasi sejarah bertujuan untuk membentuk pemikiran masyarakat agar sesuai dengan kepentingan tertentu, sehingga kesadaran terhadap bangsanya sendiri lemah. Bangsa yang tidak dapat memahami sejarah aslinya sering kali menjadi mudah dihasut dan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang ingin menguasai atau mengeksploitasi sumber daya yang ada di Indonesia.
5. Penghancuran Manuskrip dan Arsip Sejarah
Manuskrip dan arsip sejarah adalah bukti fisik yang menyimpan pengetahuan dan sejarah bangsa. Penghancuran catatan sejarah dan budaya baik dalam bentuk manuskrip, buku, prasasti, atau lukisan, adalah bentuk agresi sejarah dan budaya. Hal ini sangat membahayakan bangsa dan negara.
MEREKA SEDANG BERUSAHA MENCARI MANUSKRIP DAN MENGHANCURKANNYA
Manuskrip merupakan catatan sejarah di masa lalu dan merupakan sumber primer pada zamannya. Sumber primer suatu sejarah harus dijaga dengan baik hal ini sebagai usaha menjaga kedaulatan negara Indonesia dari potensi perampasan sejarah dan budaya. Terdapat indikasi usaha untuk merebut manuskrip-manuskrip dari tangan-tangan penduduk pribumi, manuskrip peninggalan kerajaan, manuskrip keluarga, manuskrip keagamaan, dan lain sebagainya sebagai indikasi sabotase kedaulatan bangsa melalui pembelokan-pembelokan sejarah dan budaya.
Penuturan seorang tokoh di wilayah gresik utara (Sumber Istiemewa) menyampaikan, bahwa beliau didatangi oleh seseorang yang berniat ingin memiliki Manuskrip tersebut, bahkan ingin membelinya walaupun dengan harga tinggi, orang tersebut merupakan orang suruhan dari kelompok tertentu yang patut diduga adalah klan tertentu yang menduduki Indonesia, dan menggarap program ini melalui pendekatan budaya dan sejarah, walaupun pendekatan tersebut seolah memperhatikan sejarah dan budaya, disinyalir sebagai metode DETEKSI wilayah-wilayah di pelosok nusantara, ketika ada sumber-sumber manuskrip dan peninggalan primer sejarah dan budaya, dengan pendekatan humanis manuskrip dan dokumen primer sejarah tersebut direbut kemudian dimusnahkan. Oleh karena itu, tetap berhati-ati, tetap waspada terhadap kejahatan trans-nasional yang sekarang lagi mengintai negera kita.
Penulis : Mohammad S., S.Kom., M.Kom.
(Dosen Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University, Kampus Surabaya)