@PWILS Gresik - Istilah baru dari komunitas muhibbin yang belum move on dari keterkungkungan penjajahan spiritual adalah "Lebih Baik Salah Mencintai daripada Salah Membenci", istilah ini terkesan benar walaupun belum tentu benar, untuk menguji istilah tersebut perlu melekatkan dengan kalimat lain, misalnya istilah cinta dilekatkan dalam bentuk kalimat "Lebih Baik Salah Mencintai Kepada Oknum yang Membelokkan Sejarah Bangsa Indonesia", kemudian istilah benci juga dilekatkan dengan kalimat lain "Lebih Baik Salah Membenci Kepada Orang Baik yang Jelas Kontribusinya untuk Bangsa dan Negara". Kedua pernyataan ini bersama-sama mengandung potensi sikap permisif terhadap kejahatan. Saat anda salah mencintai, sedangkan anda mencintai orang yang berpotensi besar membelokkan sejarah tentu anda berkontribusi memberikan ruang permisif kepada oknum-oknum imigran dalam membelokkan sejarah bangsa indonesia, sebaliknya, ketika anda salah membenci orang baik, dimana yang dibenci adalah keturunan dari Rosulullah SAW yang asli, yang dahulunya para Walisongo telah menorehkan dakwah yang lemah lembut penuh kebijaksanaan, kemudian sekarang para penerusnya membawa panji-panji kebenaran kemudian anda membencinya dengan ungkapan perbandingan bahwa salah mencintai klan-klan pembelok sajarah tidak ada masalah, sedangkan salah membenci kepada orang baik, pelurus sejarah, pembongkar nasab palsu, dan lain sebagainya tidak lebih baik, hal ini merupakan ungkapan yang keliru, ungkapan salah mencintai bisa sama saja dari salah membenci, karena keduanya bisa berpotensi membahayakan kebangsaan kita, jika dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang terjadi akhir-akhir ini.
LEBIH BAIK BENAR MENCINTAI DAN BENAR DALAM MEMBENCI
Untuk mengganti potensi kesalahan dan kefatalan dalam istilah Lebih Baik Salah Mencintai daripada Salah Membenci, alangkah baiknya menggunakan pernyataan yang tepat yakni LEBIH BAIK BENAR MENCINTAI, benar dalam mencintai adalah mencintai dengan pertimbangan akal, dilandaskan kepada ilmu dan kebenaran, karena jika mencintai tidak menggunakan pertimbangan akal, potensi bahayanya adalah kesalahan dalam mencintai, mencintai dengan salah, atau anda akan mudah ditipu oleh orang yang anda cintai tersebut yang pada akhirnya, jika terkait dengan kebangsaan, akan membahayakan bangsa dan negara ini di kemudian hari. Istilah yang kedua yang telah dikoreksi adalah LEBIH BAIK BENAR DALAM MEMBENCI, benar dalam membenci, adalah kebenaran ketika anda membenci, membenci kemaksiatan, membenci kebatilan, membenci kesewenang-wenangan, membenci sifat dan sikap mereka yang membelokkan sejarah bangsa, dan lain sebagainya. Kebencian yang didasarkan kepada akal sehat, nalar waras, dan yang dibenci merupakan obyek sesuai tuntunan agama yang demikian itu merupakan kebencian yang baik. Pada akhirnya, gunakan cinta dan benci dengan baik dan terukur, jangan sampai salah menggunakannya.
CINTA DAN BENCI PERLU PARAMETER
Jika anda mencintai, asal mencintai, tentu ini merupakan cara mencintai yang tidak cerdas, sebaliknya jika anda membenci, dengan asal membenci, tentu ini merupakan cara membenci yang tidak cerdas pula. Perlu parameter untuk mencapai kebenaran dalam mencintai, mencintai suatu bangsa adalah kewajiban warga bangsa, karena kedaulatan suatu bangsa melekat kecintaan kita kepada bangsa tersebut, dan kebencian kepada bangsa adalah kesalahan yang fatal. Mencintai bangsa membutuhkan parameter, karena boleh jadi anda salah ketika mencintai bangsa lain karena liberalnya, hedonisnya, dan kapitalisnya. Mencintai bangsa sendiri merupakan kebaktian, selayaknya mencintai orang tua yang melahirkan, dan bumi pertiwi ini alasan dimana anda dilahirkan di bumi Indonesia. Parameternya jelas, bahwa bangsa ini salah satu alasan dimana anda sekarang bisa menikmati demokrasi, ruang mempelajari kebijaksanaan, dan awal mula anda dapat mengapresiasi betapa Indonesia ini telah menjadi ruang kita dilahirkan tanpa diminta. Dengan alasan ini, kita seharusnya peka dan cerdas dalam mensikapi fenomena kebangsaan akhir-akhir ini, anda seharusnya mampu mengekstraksi fenomena kebangsaan tersebut kemudian menggunakan dengan tepat kecintaan anda kepada Indonesia, bukan karena feodalisme tanpa dasar ilmu pengetahuan anda telah bersikap permisif kepada klan-klan perusak kebangsaan, yang tentunya kondisi ini tidak baik-baik saja untuk indonesia kita dan untuk masa depan anak bangsa.
Penulis : Mohammad S., S.Kom., M.Kom.
(Dosen Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University, Kampus Surabaya)