Dalam beberapa waktu terakhir, sebuah lembaran tua dari buku yang memuat tulisan tentang "I'tiqad Ba'alawi" menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dokumen ini menyebutkan bahaya yang mengancam dari klan Ba'alawi, sebuah tema yang tampaknya telah lama menjadi perhatian, bahkan sejak era kolonial Belanda.

Sejarah dan Konteks

Dokumen ini mengungkap bahwa kekhawatiran terhadap pengaruh klan Ba'alawi sudah ada sejak masa lampau. Dalam lembaran tua tersebut, ditulis dengan ejaan lama, terdapat penegasan bahwa ancaman laten dari klan Ba'alawi bukanlah isu baru. Beberapa tokoh pribumi sebelumnya telah memperingatkan bahaya ini, namun sayangnya, pengaruh taklid buta membuat isu ini tidak menjadi perhatian publik.

Taklid, yang diartikan sebagai penerimaan tanpa dasar kritis terhadap sebuah keyakinan atau pendapat, dianggap sebagai akar permasalahan. Dalam konteks ini, taklid terhadap silsilah Ba'alawi sering kali diasosiasikan dengan keyakinan bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. Sikap ini, menurut dokumen tersebut, telah menciptakan persepsi kolektif yang sulit digugat.

Peran Belanda dan Rabi'ah Alawiyah

Pada tahun 1928, untuk meredam polemik dan mempertahankan pengaruh mereka, klan Ba'alawi membentuk Rabi'ah Alawiyah. Langkah ini hanya berselang satu bulan setelah Sumpah Pemuda, sebuah momen penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Dengan dukungan kolonial Belanda, Rabi'ah Alawiyah tidak hanya menyusun ulang silsilah mereka tetapi juga memanfaatkan dokumen sejarah dari Hadramaut, Yaman, untuk memperkuat klaim nasab mereka.

Selain itu, klan Ba'alawi juga terlibat dalam berbagai upaya untuk membangun pengaruh di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, termasuk mendirikan lembaga pendidikan dan membangun jaringan dengan ulama serta tokoh masyarakat.

Kritik terhadap Taklid dan Silsilah

Dokumen ini juga menyoroti bahwa silsilah klan Ba'alawi telah menjadi bahan perdebatan. Beberapa bukti historis yang didatangkan dari Hadramaut justru tidak mendukung klaim nasab tersebut. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada upaya sistematis untuk membangun glorifikasi sejarah klan tersebut, yang sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Imam Al-Ghazali, dalam ajaran mereka, telah memperingatkan bahaya taklid buta. Menurut mereka, kebenaran harus dicari melalui penelitian dan pemahaman mendalam, bukan hanya berdasarkan silsilah atau klaim sejarah.

Artikel ini mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam glorifikasi tanpa dasar terhadap kelompok tertentu. Penting bagi masyarakat untuk bersikap kritis dan tidak hanya bergantung pada tradisi atau keyakinan yang diwariskan tanpa kajian. Sejarah selalu memiliki sisi lain yang perlu dipahami agar kita tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan.

Ditulis oleh : @Syaf