@PWILS Gresik -- Wali Songo berikutnya adalah Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Siapa sebenarnya Sunan Ampel itu dan mengapa raja Majapahit Prabu Wijaya sampai tertarik pada ajaran beliau, seperti apa ajaran Sunan Ampel sehingga mampu menggetarkan hati pemimpin majapahit.
Sunan Ampel berdasarkan beberapa referensi memiliki nama kecil yakni Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah yang merupakan cucu Raja Campa sebuah negeri di wilayah Vietnam, beliau lahir di negeri Campa tahun 1401 masehi, ayahnya bernama Ibrahim Asmorokondi, sedang ibunya bernama Dewi Condrowulan atau Siti Fatimah, nama Ibrahim Asmorokondi di referensi lain disebutkan Syekh Maulana Malik Ibrahim Asmoroqondi, kata Asmarakondi merupakan kata di bagian belakang merujuk dari negeri asal beliau yakni Samarkan, sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat daerah Bukharah, sejak dahulu daerah Samarkan dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang masyhur sebagai pewaris hadits-hadits Shahih, di Samarkan juga terdapat seorang ulama besar bernama Syekh Jamaludin Jumadil Kubro beliau mempunyai Putra bernama Ibrahim dan karena berasal dari Samarkan maka Ibrahim mendapat tambahan nama Assamarkondi, orang Jawa sukar menyebut kata Assamarkondi sehingga menyebutnya dengan Syekh Ibrahim Asmorokondi
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Ibrahim Asmorokondi memiliki tugas suci dari Daulah Turki Utsmani untuk menyebarkan agama Islam ke Asia hingga akhirnya beliau sampai ke negeri Campa dan berhasil mengislamkan daerah tersebut bahkan beliau diambil menjadi menantu untuk dinikahkan dengan Putri Raja campa bernama Dewi Condrowulan keturunan terakhir Dinasti Ming, dari pernikahannya Ibrahim Asmorokondi dikarunia dua putra bernama Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel, dan Sayyid Ali Murtado sesuai catatan Said Bahrudin Alawi Al-Husaini dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait disebutkan bahwa Sunan Ampel tercatat sebagai keturunan ke-22 dari Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam perkembangannya Negeri Campa mendapat serangan musuh dan kemudian hancur,
Keluarga Kerajaan lari menyelamatkan diri termasuk Sunan Ampel yang memilih lari ke wilayah Majapahit karena disana mempunyai keluarga yakni Dewi Juarawati yang diperistri Raja Brawijaya. Beliau berlabuh di pelabuhan Tuban yang menjadi gerbang utama masuk Kerajaan Majapahit, setelah berlayar cukup lama, di tempat itu beliau bertemu dua tokoh yakni Ki Wiryosorojo dan kibang kuning keduanya mengikuti ajakan Sunan Ampel masuk Islam bersama keluarganya, melalui dua tokoh itulah Sunan Ampel dibantu menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Sasaran dakwah beliau adalah ke wilayah lain yang selama ini belum digarap yakni wilayah timur Ampel Denta Surabaya, dari wilayah Itulah nama Ampel disematkan, sehingga dikenal sebagai Sunan Ampel. Di wilayah itu beliau membangun Pesantren dan mendidik para muballigh santrinya menyebar ke seluruh Jawa. Murid-murid yang terkenal antara lain Sunan Bonang dan Sunan Drajat yang tidak lain adalah Putra Sunan Ampel sendiri, murid yang lain adalah Maulana Ishak, Sunan Giri, dan Raden Fatah yang kemudian menjadi Sultan Demak Bintoro. Sunan Ampel juga dikenal sebagai Negarawan dan tokoh yang mempunyai Gagasan dan perencana berdirinya Kerajaan Islam pertama di Jawa yakni kerajaan Demak Bintoro. Menurut bukti sejarah, beliau sebagai orang yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai sultan pertama kerajaan Demak Bintoro yang pada akhirnya Kesultanan Demak Bintoro menjadi pusat penyebaran Islam ke seluruh wilayah Indonesia. Beliau adalah penasihat politik Kerajaan Demak sekaligus merangkap pemimpin wali songo atau Mufti Agama se-tanah Jawa, maka fatwanya dipatuhi semua orang dan untuk memperkuat penyebaran Islam Sunan Ampel menikahi Putri Adipati Tuban, yakni Arya Teja bernama Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, beliau juga menikahi Putri tokoh Surabaya Ki Roso atau Ki Kembang Kuning yang bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, pernikahan dengan Dewi Condrowati dianugerahi penerus yakni Sunan Bonang, Siti Syariah, Sunan Drajat, Sunan Sedayu, Siti Mutmainnah, dan Siti Hasa, sedangkan pernikahannya dengan Dewi Karima binti Ki Kembang Kuning dikaruniai penerus yakni Dewi Murtasya, Asia, Raden Hasanuddin atau Sunan Lamongan, Raden Zainal Abidin atau Sunan Demak, Pangeran Tumapel, dan Raden Faqih. Seiring perkembangannya Islam menyebar di wilayah Surabaya, Gresik, dan pesisir lainnya sebagai wilayah Pinggiran. Kondisi Kerajaan Majapahit sepeninggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis, kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara termasuk Perang Paregreg. Perang saudara antara kubu Prabu wirabumi dengan Prabu Krama Wardhana atau antara Majapahit bagian barat dengan bagian timur diperparah dengan banyaknya Adipati yang tidak loyal lagi dengan keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya kertabumi, pajak dan upeti kerajaan tidak ada yang sampai ke istana Majapahit, sering dinikmati para Adipati itu sendiri hal ini membuat sang prabu bersedih hati, Lebih sedih lagi setelah melihat kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berfoya-foya dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Kertajaya atau Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam ini diteruskan maka kerajaan akan menjadi lemah dan akan mudah bagi musuh menghancurkan Majapahit Raya. Di tengah dekadensi moral bangsa Majapahit kala itu Sunan Ampel muncul dengan ajarannya yang sangat terkenal yakni falsafah molimo atau tidak mau melakukan 5 hal tercela yaitu Moh main atau tidak mau berjudi, Moh ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan, Moh maling atau tidak mau mencuri, Moh madat atau tidak mau menghisap candu, ganja, dan lain-lain, dan yang terakhir adalah Moh Madon atau tidak mau berzina atau main perempuan yang bukan istrinya (Bersambung Part 4).